//
you're reading...
Estafet Pangkostrad

Letjen Ryamizard Ryacudu (1 Agustus 2000 – 3 Juli 2002)

Dialah Jenderal yang kini memimpin TNI Angkatan Darat. Perjalanan hidup Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu memang menarik meskipun tidak ada yang terlalu menonjol.

Sejak kecil, Ryamizard sudah banyak menghafal hadis, sampai-sampai dijuluki “Si Hadis”. Maklumlah, sejak kecil orangtuanya sangat menekankan pendidikan agama. Sebutan Si Hadis buat anak almarhum Brigjen TNI (Purn) Ryacudu, orang kepercayaan mantan Presiden Soekarno, dipegang Ryamizard karena dia gemar menghapal hadis-hadis Rasulullah.

“Wah, ini dia Pak Kiai kita!” begitu panggilan biasa teman-teman tarunanya. Padahal Ryamizard mengaku bukanlah seorang yang punya pengetahuan agama luar biasa hebatnya. Ia hanya terbiasa salat lima waktu dan berpuasa sunat Senin-Kamis. Bila tiba waktu salat, tak jarang ia ditugasi mengimami para taruna. Beberapa di antara mereka malah sempat minta diajari salat.

Setelah menjadi tentara, baginya, negara ini adalah milik seluruh bangsa Indonesia. Kalau kita ingin negara ini aman tenteram, ungkapnya, kita sendiri yang harus membuatnya. Dan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, ia ingin menjadi prajurit yang baik dan bertakwa.

Sejak menjabat Pangdam V Brawijaya ia sering mengikuti berbagai macam kajian keagamaan, termasuk tasawuf dan tarekat. Namun ia tidak pernah tergabung dalam suatu mazhab dan aliran. Pegangannya cuma Al-Quran dan hadis Rasul.

Alasannya memutuskan untuk masuk dinas tentara karena ia bangga melihat ayahnya. Menurut Ryamizard, sang ayah mengabdikan seluruh hidupnya bagi bangsa dan negara. Keputusannya menjadi seorang tentara bukanlah atas keterpaksaan. Cita-citanya adalah menjadi seorang prajurit yang baik. Bukan tentara yang gemar berpolitik atau berbisnis. Itulah sebabnya ia senantiasa meminta kekuatan lahir dan batin agar mampu menjalankan amanah sebagai tentara yang dimuliakan Allah.

Peran TNI, menurutnya, setelah peran keamanan diserahkan ke polisi. Keamanan memiliki wilayah masing-masing. Ada wilayah polisi, ada wilayah tentara. Ada wilayah di tengah-tengah, dua-duanya. Kalau masalah keamanan, ada tawuran antarmasyarakat, antarkelurahan di kota ini, misalnya, itu urusan polisi. “Tapi, kalau sudah kayak di Maluku, itu sudah dua-duanya. Apalagi jika orang asing sudah masuk, entah dengan cara apa, infiltrasi dan sebagainya, itu urusan tentara,” ujarnya.

Sebelum diangkat jadi KSAD, ia sempat diisukan macam-macam, misalnya karena ia putra Palembang, sesuku, juga dekat dengan Taufiq Kiemas, suami Megawati. Koneksi “Palembangisme” ini bisa membantu meratakan jalan.

Kalau sampai Ryamizard dipaksakan naik ke posisi KSAD, begitu salah satu isu yang berkembang saat itu, maka ia bisa disamakan dengan almarhum Agus Wirahadikusumah yang dahulu pun dikatrol ke jabatan Pangkostrad oleh Gus Dur. Ryamizard meski dikenal sebagai mantunya mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, namun sebagai putra asal Palembang ia tentu wajar terkena isu nepotisme mengingat suami presiden, Taufik Kiemas, juga berasal dari Palembang.

Di tubuh militer sendiri, Ryamizard dianggap benar-benar profesional dan tidak banyak melakukan politicking. Sejauh ini, Ryamizard memang berhasil membuktikan anggapan itu.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calender

November 2011
M T W T F S S
    Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 34,687 hits
%d bloggers like this: