//
you're reading...
Artikel Kostrad

MENGAPA SUATU PERISTIWA PERLU DIBERITAKAN ?

Berita didefinisikan sebagai laporan atau  pemberitahuan mengenai terjadinya peristiwa atau keadaan yang bersifat umum terjadi (aktual) yang disampaikan oleh wartawan dalam media massa. Secara garis besar dapat disimpulkan sebagai laporan tentang fakta dan pendapat, penting, menarik perhatian bagi sebagian besar khalayak dan dipublikasikan secara cepat pada khalayak luas (masyarakat).

Mengapa suatu peristiwa perlu diberitakan? Setidaknya ada dua dasar alasan, yakni : untuk memenuhi tujuan politik keredaksian suatu media massa dan memenuhi kebutuhan informasi pembaca. Dalam hubungannya dengan lembaga/institusi,  membangun citra positif institusi/lembaga yang bersangkutan dapat  menjadi alasan mengapa peristiwa yang terjadi perlu diberitakan.

Banyak peristiwa terjadi setiap hari tetapi tidak setiap peristiwa yang terjadi layak diberitakan. Suatu peristiwa layak diberitakan apabila peristiwa tersebut mengandung sesua­tu yang penting atau sesuatu yang menarik. Ukur­an mengenai apa yang penting atau apa yang menarik bisa berbeda bagi setiap pewarta, komunitas, maupun pembaca.

Pada umumnya peristiwa yang patut dilaporkan harus mempunyai kriteria, yaitu peristiwa yang memiliki nilai berita. Nilai berita sendiri, menurut Julian Harris, Kelly Leiter dan Stanley Johnson, mengandung beberapa unsur, yaitu:

a)    Konflik: merupakan informasi yang menggambarkan pertentangan antar manusia, bangsa dan negara perlu dilaporkan kepada khalayak. Dengan begitu khalayak mudah mengambil sikap.

b)    Kemajuan: informasi tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa perlu dilaporkan kepada khalayak untuk mengetahui peradaban manusia.

c)    Dekat: informasi yang memiliki kedekatan emosi dan jarak geografis dengan khalayak. Makin dekat suatu lokasi peristiwa, maka semakin disukai khalayak.

d)    Aktual: informasi tentang peristiwa yang baru terjadi perlu segera dilaporkan. Bagi media, ukuran aktual biasanya sampai dua hari. Artinya peristiwa yang terjadi dua hari yang lalu masih aktual diberitakan.

e)    Unik: informasi tentang peristiwa yang unik, yang jarang terjadi perlu segera dilaporkan.

f)     Manusiawi: informasi yang dapat menyentuh emosi khalayak, seperti dapat membuat menangis, terharu, tertawa dan sebagainya.

g)    Berpengaruh: informasi mengenai peristiwa yang berpengaruh terhadap kehidupan orang banyak.

h)   Ketegangan (suspense): sesuatu yang membuat orang ingin tahu dari suatu peristiwa. Biasanya, nilai berita ini dipakai ketika sebuah peristiwa terjadi dalam waktu yang agak lama yang memerlukan suatu prediksi ending. Misalnya

i)     Kemasyhuran (prominence): nilai berita yang menekankan pada popularitas seseorang (figur publik).

j)     Baru (actuality): peristiwa yang baru saja terjadi dan masih hangat dibicarakan orang banyak.

Lalu bagaimanakah teknik atau cara membuat berita yang baik ? Salah satu faktor yang menjadi penunjang untuk mencapai keberhasilan penyampaian pesan dalam berkomunikasi satu arah dalam sebuah media massa adalah penggunaan bahasa yang efektif, bahasa yang komunikatif. Bahasa yang komunikatif dalam penulisan berita memiliki syarat, antara lain jelas dan jernih, runut dan nalar, tidak ruwet dan tidak keruh, kata dan kalimatnya populer.

Ragam bahasa jurnalistik menurut A.M. Dewabrata menggunakan bahasa populer agar mudah dicerna oleh pembaca dari semua kalangan. Contohnya wartawan harus bisa menjelaskan persoalan-persoalan dalam suatu bidang, seperti dampak anjoknya nilai saham, kepada pembaca yang tidak memahami pasar saham, dengan bahasa yang mudah dicerna pembaca sehingga pembaca paham.

Penulisan berita juga tidak boleh ruwet dan keruh. Bahasa ruwet, yang tidak teratur susunannya, tidak rapi urutannya, ataupun kalimat yang disusun sembarangan sebagaimana dalam komunikasi lisan, akan menyisakan kebinggungan dan pertanyaan bagi pembaca. Maka wajib diperhatikan kejelasan dan kejernihan alur tulisan. Intinya wartawan wajib mempergunakan nalar dan logika tatkala meliput dan menulis berita, agar pembaca terbantu dan mendapatkan informasi bukan malah binggung.

Unsur Berita.

Secara teknis, sebuah berita harus memenuhi persyaratan yang dikenal dengan rumus 5W + 1H yakni :

  1. Siapa (who): Siapa yang diberitakan dalam berita?

Dapatkanlah nama lengkap dari orang-orang yang terlibat dan selalu mencek ejaannya untuk ketelitian.

  1. Apa (what): Apa permasalahan/kejadian yang terdapat dalam berita?

Dapatkan cerita tentang apa yang terjadi. Dalam beberapa berita, seperti berita polisi atau TNI, Anda mungkin ingin tahu urutan kejadiannya. Anda tidak perlu menulis beritanya secara kronologis, tetapi Anda perlu mengerti jalan ceritanya.

  1. Kapan (when): Kapan kejadiannya?

Catatlah hari dan waktu dari peristiwa itu.

  1. Di mana (where): Di mana lokasinya?

Dapatkan lokasi kejadian dan gambarkanlah.

e. Mengapa (why): Mengapa terjadi peristiwa itu?

f. Bagaimana (how): Bagaimana berlangsungnya peristiwa itu?

Berita yang tidak memenuhi persyaratan teknis akan membingungkan pembaca, karena tidak tersaji dengan lengkap. Jadi, kelengkapan data dalam sebuah berita dapat diukur dengan mengajukan enam pertanyaan dari rumusan 5W + 1H, sebagai persyaratan teknis.

 

Penulisan Berita

Ada beberapa bagian yang harus diperhatikan dalam menulis berita, yaitu:

– Membuat judul: dalam membuat judul,  harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya judul dapat menjelaskan isi berita, menarik, jelas, simpel dan lugas, serta hemat kata (biasanya tidak lebih dari lima kata).

– Membuat lead (jendela berita) : dalam straight news, lead biasanya diletakkan pada paragrap 1-2. umunya, diletakkan diawal berita, dan bahkan terkesan sebagai bagian lain dari tubuh berita. Namun, lead sangat penting karena dia adalah jendela berita. Lanjut atau tidaknya si pembaca untuk menuntaskan berita tergantung dari lead.

– Membuat Ending: terkadang kita sulit dalam menutup tulisan berita. Namun, pada umumnya, ending berita berkarakter: 1. menyengat: ending menyengat ini biasanya diakhiri dengan kata-kata mengagetkan pembaca dan membuatnya seolah-olah terlonjak, kaget atau pun kagum. 2.klimaks: ending ini biasanya dipakai pada berita yang menceritakan kronologis berita secara lengkap. 3. menggantung: ending ini bisa disebut dengan ending yang tidak menemukan penyelesaian. Artinya, wartawan tidak memberikan kesimpulan jelas pada beritanya dan membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri.

 

Selain beberapa faktor diatas, yang menentukan sebuah berita layak dipublikasikan adalah melihat dari persyaratan kebahasaan bahasa yang digunakan dalam penulisan berita harus memenuhi ketentuan bahasa jurnalistik. Bahasa Jurnalistik atau bahasa pers menurut H. Rosihan Anwar dalam buku Bahasa Jurnalistik dan Komposisi, adalah salah satu ragam bahasa. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas yaitu: singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Bahasa jurnalistik itu harus mengacu dan mengikuti bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam penggunaannya, bahasa jurnalistik lebih tepat disebut dengan bahasa Indonesia khas jurnalistik. Artinya, selain mengikuti ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, struktur bahasa Indonesia yang benar, serta kosakata yang baku, bahasa jurnalistik juga memiliki kekhasan tersendiri dalam penggunaannya.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calender

December 2011
M T W T F S S
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 34,687 hits
%d bloggers like this: