//
you're reading...
Artikel Kostrad

Slogan yang harus Diaktualisasikan

Peduli, berbuat dan bertanggung jawab bukanlah hal yang asing bagi setiap prajurit Kostrad.  Moto/slogan maupun yang menghiasi di beberapa bagian bangunan Makostrad tersebut seharusnya mendarah daging dan mengalir dalam denyut urat nadi setiap personel Kostrad dalam mengabdikan jiwanya kepada satuan, bangsa dan negara. Keberhasilan Binsat yang diantaranya berupa pembinaan personel merupakan salah satu tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana visi/slogan tersebut dilaksanakan. Dalam Pembinaan Personel, masalah Kumplintatib adalah salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian serius dari kita semua. Tingginya angka pelanggaran yang terjadi pada TA 2010 mendorong munculnya kebijakan pimpinan Kostrad untuk berupaya menekan angka pelanggaran yang terjadi pada TA. 2011. Hal ini sekaligus akan menjadi tolak ukur sejauh mana moto Kostrad (Peduli, Berbuat dan Bertanggung jawab) telah bersama-sama kita laksanakan.

Berkaitan dengan upaya menekan angka pelanggaran yang terjadi sampai dengan Nopember 2011, hal yang cukup membanggakan adalah menurunnya angka kuantitas pelanggaran yang terjadi pada TA 2011, namun secara kualitas menunjukkan peningkatan. Hal ini tentunya mengundang keprihatinan kita semua dalam rangka memajukan Kostrad dalam mengabdikan kepada bangsa dan negara. Berkaitan dengan hal tersebut perlu kiranya kita senantiasa merenung dan instropeksi diri dengan memunculkan berbagai pertanyaan yang perlu kita jawab secara jujur sesuai dengan hati nurani. Berbagai pertanyaan yang perlu untuk kita jawab bersama-sama adalah : Benarkah kita telah peduli terhadap diri sendiri, prajurit dan satuan? Apakah yang telah kita perbuat untuk satuan, bangsa dan negara? Dan sejauh mana kita telah mempertangggung jawabkan setiap tugas dan jabatan yang kita emban kepada prajurit, satuan, bangsa, negara dan agama?  Untuk menjawab pertanyaan terebut tentunya masih ada berbagai pertanyaan yang lebih dahulu perlu untuk dijawab : Apakah motif/latar belakang/penyebab berbagai pelanggaran tersebut terjadi? Mungkinkan pelanggaran terjadi karena mental prajurit yang tidak baik sejak masuk TNI?  ataukah kesejahteraan yang kurang? Atau pembinaan personel yang kurang tepat?

Seharusnya, setiap orang yang menjadi anggota TNI adalah warga negara yang memiliki kepribadian yang baik dengan disertai keimanan yang berkualitas. Hal ini tentunya didukung dengan adanya berbagai tahapan seleksi yang cukup ketat untuk melihat kepribadian mereka baik melalui Litpers maupun test Psikologi. Dari hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa setiap prajurit yang masuk ke satuan memiliki modal dasar kepribadian dan keimanan yang baik karena telah melalui proses seleksi dan pendidikan awal yang memadai. Sedangkan kesejahteraan bukanlah merupakan alasan sehingga pelanggaran bisa terjadi di satuan jajaran Kostrad. Prajurit TNI bukanlah tentara bayaran yang pengabdiannya tidak diukur dengan uang. Namun demikian pemerintah telah terbukti untuk terus berupaya meningkatkan kesejahteraan prajurit melalui pemberian tunjangan kinerja. Masih tingginya angka pelanggaran ditengah upaya pemerintah untuk terus meningkatkan kesejahteraan prajurit tentunya merupakan hal yang kontra produktif dengan harapan kita semua.

Jika demikian adanya maka jawaban yang paling memungkinkan berkaitan dengan masih tingginya angka pelanggaran adalah pola pembinaan prajurit yang masih perlu adanya peningkatan disetiap strata baik pada level Perwira, Bintara maupun Tamtama. Kurang tepatnya pola pembinaan tersebut sehingga kondisi mental prajurit mudah terombang-ambing dengan kondisi lingkungan sekitar mereka bertugas. Berbagai fakta yang mendukung tentang kesimpulan tersebut diantaranya adalah pertama, mayoritas kasus THTI/Desersi, maupun tindak pidana yang terjadi dilatar belakangi adanya berbagai permasalahan ekonomi karena pola hidup boros, narkoba, maupun tindak asusila. Pola hidup boros merupakan dampak dari hidup konsumtif  dan memandang kebutuhan tersier seolah-olah menjadi kebutuhan primer dengan tanpa mempertimbangkan penghasilan mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa perkembangan teknologi/informasi dan sosial budaya telah mampu menggoyang sendi-sendi kehidupan prajurit sehingga pola hidup mereka cenderung individualis, konsumptif dan labil dengan tingkat keimanan yang rendah sehingga memicu rendahnya keimanan prajurit dan keluarga. Kedua, pelanggaran cenderung terjadi pada waktu diluar jam dinas khususnya pada pertengahan malam/dini hari. Hal ini menunjukkan masih rendahnya tingkat pengawasan dan pengamanan prajurit baik di dalam maupun diluar satuan. Ketiga, masih banyaknya anggota yang tinggal diluar asrama baik tinggal dikontrakan maupun kos-kosan juga telah terbukti ikut berpotensi mendorong terjadinya berbagai pelanggaran jika tidak mendapatkan perhatian yang serius dari para komandan satuan. Keempat, berbagai permasalahan yang terjadi sebenarnya dapat dieliminir/dicegah seawal mungkin jika ada kedekatan antar anggota maupun antara anggota dengan para perwira di satuan.  Fakta berikutnya yang juga perlu untuk disampaikan adalah  Tidak menutup mata bahwa dengan kondisi kesejahteraan TNI saat ini, ditengah tingginya biaya hidup dan biaya sekolah saat ini muncul suatu pertanyaan seperti…. Dengan pendapatan TNI seperti saat ini mampukah para anggota TNI menyekolahkan anaknya hingga kejenjang Perguruan tinggi yang berkualitas? Ataukan hanya pada tingkat PT dengan status tidak jelas? Hal ini menuntut para anggota TNI untuk terus berfikir agar mereka siap pada saat sang anak mencapai saatnya untuk masuk PT pada jurusan favorit seperti kedokteran, pertambangan, arsitek dll fakultas favorit yang siap pakai.

 Dengan melihat berbagai permasalahan dan fakta-fakta tersebut diatas, pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah Bagaimana upaya untuk menekan terjadinya pelanggaran tersebut? Dengan memperhatikan berbagai faktor yang berpengaruh baik internal maupun eksternal maka upaya yang perlu dilakukan meliputi:  Pertama, perlu adanya peningkatan kepedulian para prajurit Kostrad. Kepedulian disini mengandung pengertian bahwa setiap prajurit Kostrad harus perhatian/peduli terhadap sesama prajurit, peduli terhadap lingkungan dan peduli terhadap setiap perkembangan situasi maupun permasalahan sekecil apapun. Lebih khusus kepada para Perwira, kepedulian harus diwujudkan dengan kepekaan/tanggap terhadap kondisi parajurit/bawahan dan lingkungan dimanapun berada. Para perwira dituntut untuk tanggap/peka terhadap indikasi-indikasi akan terjadinya suatu permasalahan/pelanggaran yang dilakukan prajurit ataupun terhadap permasalahan yang terjadi sekecil apapun.

Permasalahan apapun yang terjadi tidak boleh dianggap remeh namun harus dapat diyakinkan benar-benar selesai secara tuntas sehingga tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Prinsip kepemimpinan dimana seorang komandan adalah berperan sebagai bapak, guru, pemimpin, maupun kawan/saudara harus benar-benar mampu diaplikasikan sehingga mereka mengerti dan mengenal betul anak buahnya masing-masing untuk mewujudkan hubungan yang saling asah, saling asih dan saling asuh, sedangkan permasalahan-permasalahan dapat dieliminir dan diantisipasi seawal mungkin.

Kedua, setiap prajurit Kostrad harus mau berbuat untuk mengembangkan diri dan satuan kearah yang lebih baik. Mereka harus memiliki kemauan dan semangat pantang menyerah untuk berbuat yang terbaik sesuai dengan kemampuan. “Do The Best” merupakan salah satu slogan yang juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi para pemimpin (perwira) di setiap satuan, kebiasaan untuk mau dan berani berbicara, menulis dan berpendapat merupakan hal yang harus terus dikembangkan. Perwira harus berani berbicara untuk menegor dan mengoreksi setiap kesalahan anak buah sekecil apapun. Sedangkan kreatifitas harus terus dikembangkan melalui tulisan maupun pendapat-pendapat dalam rangka mengembangkan satuan. Namun demikian hal yang tidak kalah penting adalah kita tidak boleh hanya bicara, menulis dan berpendapat namun harus mau melakukan apa yang kita tulis dan kita ucapkan. Sedikit mengutip ungkapan orang bijak bahwa “kita adalah murid pertama dari apa yang kita tulis dan kita ucapkan”

Dengan kepedulian yang tinggi maka para Dansat dan Perwira di satuan akan mampu berbuat yang lebih baik sesuai dengan kondisi prajurit dan satuannya. Beberapa tindakan yang harus dilakukan diantaranya 1) Peningkatan pembinaan Mental bagi prajurit dan keluarga baik mental rohani, idiologi, maupun  tradisi/kejuangan sehingga perkembangan lingkungan sosial, teknologi dan informasi tidak memberikan dampak negatif dalam kehidupan prajurit namun dapat dimanfaatkan sebagai peluang dalam peningkatan kesejahteraan dan profesionalisme keprajuritan. Anggota akan bangga sebagai prajurit Kostrad, merasa bahwa tentara adalah profesi yang menyenangkan & membanggakan bagi setiap prajurit & keluarganya, malu melanggar, hidup sederhana, selalu bersyukur/tidak ada tuntutan yang berlebihan dll).  2) Meningkatkan kebersamaan untuk lebih mengenal anak buah dan melaksanakan pengawasan melekat terhadap anggota sehingga tahu setiap indikasi pelanggaran.  3) Tidak hanya mengarahkan namun juga harus bisa menjadi contoh maupun memberikan semangat dengan berbuat bersama-sama anggota dalam berbagai kegiatan. 4) Mengungkap setiap permasalahan yang terjadi sehingga dapat diketahui latar belakang dan sebab masalah yang terjadi dan kemungkinan keterlibatan personel lainnya agar dapat diselesaikan secara tuntas hingga akarnya, serta bisa dijadikan sebagai bahan kajian & evaluasi dalam rangka pembinaan satuan kedepan. 5) Mampu memposisikan diri sebagai seorang ayah, guru, saudara maupun pemimpin dengan tepat.  6) Menegakkan aturan secara adil dan konsisten dengan tanpa ada upaya menutup-nutupi terhadap setiap pelanggaran yang terjadi sehingga mampu menimbulkan efek jera bagi seluruh prajurit di satuan serta tidak menjadi bom waktu dikemudian hari.

Ketiga, setiap prajurit Kostrad harus berani bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan. Bertanggung jawab disini bukan hanya memiliki arti sempit sebatas mempertanggung jawabkan apa yang telah kita lakukan namun mengandung pengertian bahwa setiap jabatan yang kita emban adalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan kepada anak buah, pimpinan, satuan, bangsa dan negara maupun kepada Tuhan YME. Dengan pengertian tersebut maka setiap prajurit Kostrad akan selalu berbuat terbaik dan benar agar dapat dipertanggung jawabkan secara gagah dan bersahaja.

Demikian tulisan ini dibuat dengan penuh harapan bahwa “Peduli, Berbuat dan Bertanggung Jawab” bukan hanya sebagai slogan belaka namun akan selamanya tertanam dalam sanubari dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari bagi setiap prajurit Kostrad dalam rangka mendharma baktikan diri kepada bangsa dan negara. Diharapkan pelanggaran-pelanggaran akan terus mampu ditekan sehingga profesionalisme dan kesiapan satuan akan mampu terwujud dengan penuh kebanggaan.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calender

December 2011
M T W T F S S
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 34,687 hits
%d bloggers like this: