//
you're reading...
Artikel Kostrad

“TANGISAN PARA PAHLAWAN”

17 Agustus 1945, sebuah bangsa besar telah lahir dan memproklamirkan kemerdekaannya pada dunia, bangsa tesebut terbebas dari genggaman imperialisme dan kolonialisme yang telah membelenggunya selama ratusan tahun, yang kemudian bertransformasi menjadi negara yang berdaulat.  Bangsa itu ialah bangsa Indonesia.

Indonesia mendapatkan kemerdekaannya bukan hasil dari pemberian kaum imperialis, melainkan hasil perjuangan rakyat Indonesia yang menginginkan kebebasan karena sudah muak oleh segala macam penindasan yang dilakukan oleh para penjajah dengan mengorbankan seluruh jiwa dan raga. Perjuangan rakyat telah dimulai ratusan tahun lalu saat negara ini baru berbentuk kerajaan-kerajaan dan bentuk perjuangannya masih bersifat kedaerahan. Perjuangan bersifat nasional baru dimulai pada 20 Mei 1908 saat organisasi Budi Utomo berdiri.  Rasa nasionalis rakyat Indonesia kian tertata solid saat berlangsungnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sudah ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan rakyat Indonesia telah gugur demi terwujudnya kemerdekaan. Namun setelah merdeka apakah perjuangan tersebut telah usai?? Apakah cita-cita para pahlawan perjuangan Indonesia telah tercipta??? Bagaimana kehidupan bernegara saat ini???

Di era milenium yang telah mengalami kemajuan tekhnologi dan mudah mendapatkan informasi, nilai-nilai luhur Pancasila tidak lagi terimplementasikan secara maksimal dalam kehidupan bernegara. Banyak hal yang tidak sejalan dengan norma-norma Pancasila. Konflik horizontal kerap terjadi di wilayah Indonesia. Mayoritas konflik dilatarbelakangi unsur SARA yang dihembuskan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang ingin memecah belah rakyat. Akibatnya sesama bangsa Indonesia saling serang dan saling menghancurkan serta melupakan kalau bangsa ini merupakan bangsa yang beradab. Hal ini jelas tidak sesuai dengan sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” yang terkandung dalam pancasila. Beberapa wilayah ingin memisahkan diri dari “Persatuan Indonesia” karena mereka tidak puas dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap selalu merugikan rakyat yang hidup di daerah. Para pemimpin di negara ini hanya sibuk mengurus kepentingan individual dan kelompok. Selain itu, mereka juga tunduk oleh kepentingan para pemilik modal dan investor asing yang ingin mengambil kekayaan alam tanpa mau mendengar aspirasi rakyat yang ingin negaranya maju. Akibatnya terjadi kesenjangan sosial yang sangat mencolok di negeri ini. Hukum di Indonesia hanya kuat menjerat rakyat kecil dan rakyat miskin. Namun kekuatan tersebut seperti kehilangan tajinya apabila menghadapi orang kaya dan orang berpangkat. Hal itu jelas tidak sesuai dengan nilai “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” yang diamanatkan oleh Pancasila. Bila saat ini masih hidup, Ir. Soekarno, selaku founding father dan pencetus Pancasila pasti akan sangat sedih dan kecewa jikalau mengetahui Pancasila yang ia cetuskan guna membangun bangsa serta menjadi acuan dalam kehidupan bernegara hanya menjadi sebuah wacana di buku-buku pelajaran tanpa pernah secara maksimal direalisasikan dalam kehidupan nyata oleh rakyat Indonesia yang ia perjuangkan kemerdekaannya.

Dari segi ketahanan, gangguan stabilitas nasional bukan hanya berasal dari maraknya konflik horizontal dan banyak wilayah yang ingin merdeka, keutuhan wilayah NKRI juga kerap mendapatkan gangguan dari negara-negara tetangga, beberapa kali Indonesia mengalami perang urat syaraf dengan Malaysia yang selalu ingin mencaplok wilayah Indonesia. Namun, karena lemahnya kekuatan diplomasi yang dimiliki Indonesia saat ini, kita seperti tidak bisa berbuat apa-apa saat akhirnya Malaysia “berhasil merebut” Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan” dari NKRI. Tidak hanya sampai disitu, Malaysia kerap mengklaim budaya-budaya asli Indonesia seperti lagu “Rasa Sayange, Tari Pendet, Reog Ponorogo, Angklung, dll sebagai budaya asli mereka. Inikah yang dimaksud “merdeka atau mati” yang diinginkan Jenderal Soedirman?? Atau inikah “merdeka 100%” yang dimaksudkan oleh Tan Malaka???

Dari segi ekonomi, kemiskinan di Indonesia tiap tahun semakin meningkat, korupsi merajalela, hutang negara menumpuk entah kapan akan terlunasi. Karena hutang tersebut pula kekutan Indonesia yang pernah menjadi “macan asia” mulai luntur. IMF dan World Bank yang selama ini memberikan pinjaman pada Indonesia kerap kali mengatur kebijakan ekonomi yang akan dikeluarkan pemerintah. Sebagian masyarakat berpendapat kalau inilah bentuk penjajahan modern saat ini. Penjajahan tidak lagi dengan cara menduduki atau menginvasi suatu negara. Namun dengan cara mengontrol kekuatan ekonomi suatu negara. Bila kekuatan ekonomi suatu negara telah dikontrol melalui dana pinjaman, bisa dipastikan kebijakan-kebijakan yang akan dijalankan oleh negara bersangkutan sudah dimasuki kepentingan-kepentingan negara atau badan dunia pemberi pinjaman. Apakah ini kebebasan yang diinginkan para pahlawan?? Seperti inikah bentuk kemerdekaan yang diperjuangkan??? Satu yang pasti, para pahlawan Indonesia pasti akan menangis karena mengetahui negara yang ia bebaskan dari penjajahan kembali terjajah, bukan secara teritorial namun terjajah melalui segi EKONOMI!!!!!!! (Oleh : I Gede Adi Indrawan)

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calender

December 2011
M T W T F S S
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 33,089 hits
%d bloggers like this: