//
you're reading...
Artikel Kostrad

SATGAS YONIF LINUD 330/TRI DHARMA, Kilas Penugasan di Bumi Cenderawasih

Kawasan perbatasan merupakan fenomena yang senantiasa menjadi faktor perhatian dari semua negara di dunia. Pengakuan dan penetapan batas negara yang telah ditetapkan secara lengkap dan komprehensif dapat mengurangi konflik  antar kedua negara. Namun demikian permasalahan lain masih sering terjadi di wilayah perbatasan diantaranya adalah masalah pelintas batas illegal, penebangan kayu illegal, berbagai penyelundupan serta adanya gangguan dari kelompok separatis bersenjata, oleh sebab itu pemerintah memberikan perhatian lebih dengan menugaskan beberapa satuan TNI di wilayah perbatasan.

Batalyon Infanteri lintas udara 330/TD merupakan salah satu satuan tempur yang berada di jajaran Brigif Linud 17 Divisi Infanteri 1 Kostrad dengan kualifikasi para dasar. Salah satu Batalyon kebanggaan Kostrad yang berlokasi di Cicalengka,Jawa Barat ini memiliki lambang berupa pisau kujang dan motto kebanggaan “TRI DHARMA”(Berjuang, Berbhakti dan Membangun) yang melambangkan bahwa prajurit 330 merupakan prajurit yang berasal dari rakyat,oleh dan untuk rakyat sehingga senantiasa selalu berjuang,berbhakti dan membangun bersama-sama dengan rakyat demi pengabdiannya kepada Masyarakat, Bangsa dan Negara tercinta. Sebagai salah satu Batalyon yang telah berpengalaman di berbagai medan tugas, Yonif Linud 330/TD saat ini kembali dipercaya oleh Negara untuk melaksanakan tugas di Wilayah Papua, tepatnya pengamanan perbatasan RI-PNG mulai Oktober 2010 yang tergabung dalam Satgas Yonif Linud 330/TD.

Pertama kali menapakan kaki di Bumi Cendrawasih, para prajurit Kostrad ini nampak dengan penuh kegagahan dan semangat yang membahana di bumi Papua siap untuk melaksanakan amanat Undang-undang dalam menegakkan kedaulatan Bangsa dan Negara, untuk menjaga batas wilayah paling timur NKRI. Tugas dan tanggung jawab Satgas Yonif Linud 330/TD saat ini memang tidaklah ringan. Mereka harus mampu menjaga batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia di Pulau Papua ini mulai dari patok batas negara, Meridian Monument (MM).2 s.d MM.3 sebanyak 5 patok batas yang berjarak + 70 Km membentang dari Wutung hingga Ampas dan tidak boleh bergeser sedikitpun. Memang sulit dan menantang keberadaan patok-patok batas tersebut, yang untuk mencapainya harus menerobos hutan lebat, menyeberangi sungai yang lebar bahkan kadang harus repling naik turun tebing, belum kendala lain berupa cuaca yang kadang ekstrim.

Dalam mengamankan sektor wilayah tanggung jawab yang sangat luas  maka Satgas Yonif Linud 330/TD menggelar pasukannya menjadi 24 pos. Personel Satgas Yonif Linud 330/TD yang saat ini berjumlah 650 orang yang terdiri dari 29 perwira, 98 bintara dan 523 tamtama ditempatkan ke dalam pos-pos tersebut.

Bertugas di Papua memang penuh dengan dinamika tersendiri dengan segala persoalan dan kendala di dalamnya seperti keadaan alam Papua yang masih asli, adat istiadat/budaya masyarakat yang perlu pendekatan khusus sampai dengan penyakit malaria yang memang menjadi endemi di wilayah ini, belum lagi ditambah aktivitas kelompok separatis bersenjata Papua(OPM) yang seringkali mengacau dan mengganggu ketentraman masyarakat. Hambatan-hambatan alam dan lingkungan di atas itulah yang harus diatasi oleh Satgas Yonif Linud 330/TD selama bertugas di Papua dalam menjaga batas wilayah negara

Sebagaimana penuturan Dansatgas Yonif Linud 330/TD, Letkol Inf Novi Rubadi Sugito bahwasanya kondisi alam di Papua memang memberikan kesulitan pada pelaksanaan tugas pokok satgas,  seperti keberadaan pos yang jauh dari pemukiman penduduk, terbatasnya aliran listrik sehingga sebagian besar pos penerangan masih menggunakan lampu teplok, pada waktu hujan jalan-jalan sulit ditembus dengan kendaraan roda empat sehingga menyulitkan distribusi logistik, beberapa pos yang untuk mencapainya hanya bisa ditembus dengan menggunakan helikopter sehingga berdampak pada sulitnya pendistribusian logistik serta evakuasi jika ada anggota yang sakit, kendala lain adalah minimnya air bersih serta penyakit malaria yang memang endemik di papua. Namun demikian menurut Dansatgas kondisi tersebut bukan halangan yang tidak bisa diatasi akan tetapi hal tersebut diharapkan justru menjadi tantangan bagi seorang prajurit untuk menunjukan militansi yang tinggi sebab dengan militansi tinggi tersebut ia akan selalu berpikir dan berusaha, tidak mudah menyerah pada hambatan dan tantangan, sehingga tugas yang diembankan dapat dilaksanakan dan berhasil dengan prestasi yang gemilang.”Jadikan Tantangan menjadi suatu kebutuhan,itu adalah prinsip yang selalu saya tanamkan pada Prajurit Satgas Yonif Linud 330/TD.” Ujar Dansatgas.

Dengan prinsip tersebut di atas, Dansatgas Yonif Linud 330/TD  beserta seluruh anggota Satgas mampu membangun dan merehab pos-pos yang tidak layak huni, pengadaan inverter dan genset untuk penerangan dan komunikasi serta obat-obatan malaria seperti cairan infuse dan doxycycline secara swadaya, Pengadaan air bersih untuk air minum dengan membawa penjernih air dari homebase, dan juga dalam kegiatan mendorong logistik ke pos-pos bersandar pada pos terdekat dan berantai. Selain itu Dansatgas Yonif Linud 330/TD juga memberikan dorongan moril dengan kunjungan ke pos-pos didampingi perwira stafnya dan pembinaan mental yang dilaksanakan secara intensif, kehadiran Dansatgas beserta staf dengan menginap di pos-pos dan berada di tengah-tengah prajurit sangat dirasakan manfaatnya untuk meninggikan moril bagi anggota. Moment  seperti ini dalam jam Komandan selalu digunakan untuk memberikan informasi terkini seputar penugasan, mengevaluasi kegiatan dan memberikan petunjuk-petunjuk dan arahan serta memberikan kesempatan untuk berdialog dua arah secara terbuka, dengan demikian dapat diketahui kesulitan-kesulitan yang dialami anggota di lapangan serta dapat memberikan jalan keluar dalam mengatasi kesulitannya tersebut

Pendekatan Keamanan

Lebih jauh Dansatgas menyampaikan beberapa kegiatatan yang dilaksanakan untuk menghadapi tugas pokok. Dengan melihat kondisi dan permasalahan keamanan yang timbul di wilayah perbatasan maka upaya yang dilakukan Satgas Yonif Linud 330/TD yaitu melalui pendekatan keamanan dengan patroli ke titik-titik daerah rawan termasuk lokasi patok perbatasan. Hal ini bertujuan untuk mencegah berbagai kegiatan illegal, seperti; pelintas batas illegal, illegal logging, illegal mining, keluar masuknya barang-barang illegal (ganja,narkoba dan senjata api) dan mencegah hilang atau bergesernya patok batas negara karena alam atau ulah tangan manusia, demikian juga kegiatan patroli untuk mencegah penyerangan dan mempersempit ruang gerak kelompok separatis bersenjata yang kekuatannya semakin terdesak. Tentunya dalam pendekatan keamanan ini Satgas Yonif Linud 330/TD selalu bekerjasama dan berkoordinasi dengan aparat setempat yang berwenang seperti Kepolisian, Dinas Perbatasan Daerah serta aparat teritorial yang lain (Koramil/Kodim).

Pembinaan Teritorial terbatas

Pendekatan lain dalam pelaksanaan tugas dilakukan melalui pendekatan pembinaan teritorial secara terbatas. Kegiatan ini dalam rangka membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat serta untuk menanamkan wawasan kebangsaan dan menumbuhkan rasa nasionalisme kepada masyarakat Papua. Adapun kegiatan binter yang telah dilakukan Satgas Yonif Linud 330/TD yaitu karya bhakti maupun kegiatan bhakti sosial dalam bentuk pengobatan Massal secara berkala, kegiatan pengobatan masyarakat sekitar yang hampir tiap hari datang untuk berobat ke pos-pos Satgas, kegiatan keagamaan (ibadah bersama masyarakat), perbaikan dan pembersihan rumah ibadah, pemberian sarana penggalangan berupa kitab suci ke masjid dan gereja di sekitar pos, pemberian bantuan sembako dan pakaian layak pakai untuk masyarakat di sekitar pos-pos Satgas, ikut membantu proses belajar mengajar di daerah terpencil sekitar pos yang masih kekurangan tenaga pengajar, memfasilitasi sarana olahraga dan olahraga bersama masyarakat,serta membantu dan mengatasi kesulitan rakyat setempat (membantu sarana transportasi dan membantu penyelesaian masalah yang terjadi di tengah masyarakat). Tak lupa kegiatan anjangsana ke rumah tokoh agama, adat dan masyarakat sebagai salah satu ciri ”KUTERINBAT”(Kujang Teritorial Inteligen Combat ) juga intens dilaksanakan sebab dari sanalah Satgas banyak mendapatkan informasi mengenai situasi dan kondisi wilayah setempat.

Salah satu sarana binter yang menjadi daya tarik masyarakat adalah penampilan band Satgas “Tri Dharma Band” di berbagai acara kemasyarakatan. Band ini memang sudah disiapkan sejak awal dari homebase. Pada setiap penampilannya di daerah perbatasan yang memang haus akan hiburan, antusias masyarakat untuk menyaksikan cukup besar dan tidak sedikit dari masyarakat yang turut menyumbangkan lagu-lagu hits mereka, bahkan banyak pelajar dari beberapa sekolah di sekitar daerah binaan yang belajar band di Pos Kotis

Upaya Mengatasi Masalah Dalam Satuan (Internal Satgas)

Sedangkan menyangkut Persoalan utama yang menjadi momok Satuan-satuan tugas di Papua adalah persoalan penyakit malaria, pengadaan air bersih untuk air minum dan gelar komunikasi. Belajar dari persoalan yang ada pada penugasan sebelumnya dan hasil dari meninjau medan yang dilaksanakan sebulan sebelum keberangkatan, maka sejak awal dari homebase (Bandung-red), Satgas telah berkoordinasi dengan semua pihak yang berkepentingan seperti satuan tugas yang akan digantikan, pihak-pihak yang memiliki kompetensi terhadap permasalahan yang ada serta menyiapkan alat peralatan yang diperlukan guna mendukung upaya pemecahan persoalan.

  1. Upaya meminimalisir penyakit malaria

Malaria masih merupakan suatu endemik di Papua yang memerlukan upaya penanganan serius dan telah menjadi persoalan khusus bagi Prajurit TNI yang bertugas disana baik organik maupun satuan penugasan, tidak sedikit kerugian personel non tempur yang telah ditimbulkan oleh penyakit ini. Menurut penuturan Dokter Satgas Yonif Linud 330/TD, Lettu Ckm dr.Asep Sulaeman bahwasanya dari satuan tugas yang sebelumnya saja tercatat dalam triwulan awal penugasan terdapat 175 orang prajuritnya dirawat di Rumah Sakit Marten Indey (RSMI), Jayapura. Dokter Satgas juga menjelaskan upaya yang dilakukan untuk mensiasati persoalan tersebut yaitu sejak latihan pratugas di homebase, Satgas Yonif Linud 330/TD telah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Kesdam III/SLW, Kes Kostrad hingga Puskes TNI juga melibatkan kesehatan Pemda seperti Dinkes Kabupaten Bandung, Dinkes Propinsi Jawa Barat sampai ke Depkes RI, dengan hasil keluarnya dukungan langsung berupa kemoprofilaksis (obat untuk mengurangi resiko terinfeksi malaria), kelambu lapangan berinsektisida, Rapid Diangnosis Test/RDT untuk mengetes jenis malaria,Repellent (cairan anti nyamuk) obat-obatan penyembuh malaria terkini seperti golongan arterisunate. Sedangkan kemoprofilaksis sesuai anjuran Dirjen P2PL Depkes RI adalah Doxcycyclin yang merupakan antibiotik pencegah malaria, obat ini dibagikan untuk diminum prajurit 3 hari menjelang pemberangkatan hingga selama tiga bulan di medan tugas sebagai upaya terapi obat untuk mencegah malaria. Diharapkan setelah 3 bulan tubuh kita sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan Papua dan dalam tubuh juga sudah terbentuk sistem imun terhadap malaria. Sedangkan upaya pencegahan dari Dansat dan jajarannya di daerah tugas adalah menekankan tindakan preventif  kepada seluruh personel satgas agar lebih memperhatikan disiplin dalam meminum obat Kemoprofilaksis, pemakaian kelambu lapangan berinsektisida saat tidur, pemakaian repellent pada saat jaga pos dan kegiatan lapangan, fogging dan pemberian bubuk abate yang dilakukan secara berkala guna mencegah pertumbuhan jentik nyamuk, olahraga teratur, makan dan istirahat yang cukup, kebersihan lingkungan pos yang harus tetap diperhatikan serta tes RDT bagi anggota yang terkena gejala malaria, sehingga jika terdapat anggota yang positip terjangkit malaria dapat ditangani sejak awal supaya tidak semakin parah, sebab malaria sulit diprediksi tingkat perkembangannya jika sudah menyerang otak maka akan terjadi gagal organ dan pasien akan sulit tertolong jiwanya. Bahkan tanpa sadar pasien dapat juga membahayakan jiwa yang lain di sekitarnya, karenanya sesuai pedoman Protap Satgas bahwa anggota yang positip terkena malaria maka untuk senjata organik dan benda berbahaya lainnya harus segera diamankan. Disamping itu koordinasi dengan Kesdam XVII/Cenderawasih, Dinkes Kabupaten Keerom serta Dinkes Propinsi Jayapura tetap intens dilakukan. Terbukti, upaya yang dilakukan Satgas Yonif Linud 330/TD temasuk ampuh, dalam triwulan pertama penugasan tercatat hanya 39 prajurit saja yang terjangkit malaria dan itupun tergolong stadium rendah,yang mana hanya diperlukan upaya penanganan ringan dalam penyembuhannya.”Semua hal di atas penting, namun yang paling penting agar terhindar dari malaria dan penyakit lainnya ada pada diri tiap individu agar selalu berpikiran positip, tetap semangat dan dengan moril yang tinggi tersebut maka daya tahan tubuh akan terjaga dan diharapkan mampu menangkal segala macam penyakit. Tak lupa pola makan juga harus dijaga terlebih nilai gizi dan kalorinya sebab prajurit perlu sumber tenaga dan imunitas untuk menghadapi tugas yang melelahkan di medan Papua. Dan sekedar diketahui bahwa terdapat hal khusus dalam penganganan penyakit malaria yang terbaru bahwa gejalanya saat ini sudah tidak khas lagi seperti dulu”Ujar Dokter Satgas menyimpulkan.

  1. Pengadaan Air Bersih Untuk Air Minum

Air Adalah Sumber Kehidupan” Sebagaimana diketahui dari hasil meninjau medan bahwa kondisi dan kualitas air di daerah penugasan Papua,Khususnya Kabupaten Keerom sangatlah buruk untuk dikonsumsi, airnya keruh,berkapur serta mengandung zat-zat yang tidak baik untuk kesehatan tubuh dan hal ini pun telah menjadi permasalahan penting bagi banyak penugasan TNI di pedalaman Papua.  Menurut Pasiminlog Satgas Yonif Linud 330/TD, Lettu Inf Aditya Wira menuturkan bahwa dari laporan beberapa penugasan sebelumnya tercatat banyak anggotanya yang menderita penyakit akibat gangguan metabolisme tubuh hingga yang paling parah  adalah gagal ginjal. Pasiminlog Satgas juga menjelaskan bahwa langkah pertama dari Satgas Yonif Linud 330/TD untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah ini adalah dengan memberikan pembekalan tentang cara-cara penjernihan air dengan cara yang sederhana dengan menggunakan bahan-bahan alam yang terdapat di lingkungan sekitar kita, bahkan program ini telah dimasukan dalam kegiatan latihan pratugas tahap II.  Perjernihan air dengan cara ini hasilnya lumayan jernih jika hanya untuk keperluan MCK atau untuk kondisi darurat, namun jika untuk dikonsumsi setiap hari maka masih kurang steril dari kuman, bakteri dan zat kapur maupun logam lainnya yang mambahayakan kesehatan tubuh. Selanjutnya usaha untuk mengatasi keterbatasan fungsi dari penjernih tradisional ini adalah dengan mengajukan dukungan penjernih air modern, dan permintaan Satgas ini telah direspon oleh Komando Atas, yaitu dengan didukungnya penjernih air modern berukuran kecil merk Fujiro (tipe F-10/Nice Red) sebanyak 23 unit, jumlah yang cukup untuk mendukung semua pos penugasan, alat ini bisa menghasilkan air bersih siap konsumsi 190 liter/hari atau 8-10 galon/hari. Selain dukungan dari Komando Atas, Satgas juga mengusahakan pengadaan penjernih air berkapasitas besar, yaitu Fujiro F-160 yang mampu menghasilkan air bersih sebanyak 3200 liter/hari atau 160 galon/hari dan alat ini telah memiliki sertifikasi standar kesehatan air siap  konsumsi dari Departemen Kesehatan Jayapura. Alat penjernih berkapasitas besar ini ditempatkan di Komando Utama (Kout) Satgas di Arsokota yang mana distribusinya bukan hanya menjangkau Kotis dan Kout saja namun Pos-pos yang dapat dilalui jalan angkutan darat juga dikirim. Hingga saat ini belum ada laporan tentang anggota Satgas Yonif Linud 330/TD yang mengalami gangguan penyakit akibat konsumsi air minum.  “Kita semua berharap dukungan ini benar-benar akan bermanfaat bagi seluruh anggota Satgas  selama masa penugasan di Papua, terlebih jika masyarakat sekitar tempat penugasan juga dapat menikmati manfaatnya.”Ujar Pasiminlog Satgas.

  1. Gelar Komunikasi di Seluruh Jajaran Pos

Komunikasi Tidak Dapat Memenangkan Pertempuran Tapi Tanpa Komunikasi Maka Pertempuran Tidak Akan Menang” Telah menjadi persolan klasik dari penugasan TNI yang terdapat di pedalaman Papua bahwa kondisi alam yang berbukit,bergunung dan berhutan lebat serta cuaca yang tidak menentu ditambah dengan sumber energi yang tidak memadai mengakibatkan sulitnya jalinan komunikasi dapat dilakukan antar Induk pasukan dengan seluruh jajaran pos maupun antar pos di medan tugas. Belajar dari hal tersebut maka menurut Dantonkom Satgas Yonif Linud 330/TD, Lettu Chb Rahmat Kurniawan Lubis bahwasanya sejak latihan pratugas sudah memasukan materi khusus penataran komunikasi untuk mengantisipasi masalah kendala operasional komunikasi di lapangan. Sejak dari homebase pula,Satgas telah menyiapkan segala sesuatunya seperti membuat tambahan beberapa Antena AGN rakitan dan set repeater link rakitan, yang semuanya merupakan rakitan sendiri,serta menyiapkan set retrans untuk mengkaver pos-pos yang jauh dan menyiapkan konektor-konektor antena serta feeder tambahan. Dan ternyata usaha satgas tidaklah sia-sia, dengan mendirikan 3 set repeater link HT dan 2 set retrans PRC maka saat ini seluruh jajaran pos satgas mulai dari dari ujung utara (pos Skouw) hingga ujung selatan (pos Ampas) termasuk satuan satgas yang terdapat di Jayapura dapat terjangkau komunikasi baik oleh radio SSB Yaesu 600, PRC 1077 atau PRC 999KE/C dan bahkan hanya dengan menggunakan radio HT dapat menjangkau semua pos dengan kualitas suara dan penerimaan yang bagus yang mana hal tersebut belum pernah dapat ditembus oleh Satgas-satgas sebelumnya. “Satu hal lagi yang dapat Satgas Yonif Linud 330/TD capai yaitu hanya melalui layar Komputer, Kotis Satgas  dapat memonitoring secara langsung seluruh pergerakan pasukan-pasukan yang berada di pos depan dengan memanfaatkan pancaran sinyal GPS dari HT yang dipegang oleh para Danpos.” Ujar Dantonkom Satgas.

Hasil yang dicapai Satgas Yonif Linud 330/TD

Akhirnya dengan segala upaya dan usaha maksimal yang telah dilakukan oleh seluruh anggota Satgas Yonif Linud 330/TD di medan tugas Papua telah menghasilkan hasil yang positip dan membanggakan. Keberhasilan ke dalam satuan adalah meskipun di akhir penugasan moril dan semangat anggota tetap tinggi, hingga saat ini tidak ada anggota yang melakukan pelanggaran yang berarti dan Satgas dapat mengatasi persoalan internal yang timbul di lapangan. Sedangkan untuk keberhasilan keluar terlihat dari makin kondusifnya situasi di daerah penugasan serta antusiasme dari masyarakat yang tinggi terhadap Satgas, hal ini terbukti dimanapun Satgas Yonif Linud 330/TD mengadakan kegiatan selalu disambut dan diterima dengan baik oleh seluruh komponen masyarakat. Bahkan hingga saat ini tercatat sudah sebanyak 7 pucuk senjata api didapatkan satgas baik dari hasil Patroli maupun penyerahan secara sukarela dari masyarakat, hal ini menandakan bahwa upaya pendekatan dan Binter yang dilakukan Satgas membuahkan hasil. Dan kita semua selalu berharap agar kondisi yang kondusif serta kemanunggalan dengan rakyat yang sudah baik supaya tetap dipertahankan serta ditingkatkan.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calender

December 2011
M T W T F S S
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 33,482 hits
%d bloggers like this: